Sudah sekian lama menggauli istri sendiri yang dinikahi secara sah maka awal tahun ini saya memutuskan kembali 'rujuk' dengan sang istri. Istri saya bernama Linux. Kenapa Linux disebut 'sang istri'? Karena hanya dengan istri kita sendiri kita dapat 'berbuat' apa saja tanpa takut dosa :-) Paham kan maksudnya. Nah apa hubungannya antara program komputer dengan istri?
Begini, pada awalnya memang saya dibesarkan di lingkungan Windows sehingga dari perasaan biasa saja menjadi luar biasa alias jatuh cinta. Cinta bukan hanya pada tampilannya yang molek, juga kemudahan pakai dan cara menggaulinya (gampangan lah istilahnya). Mau gaya apapun si Windows sanggup melayani dan sekali lagi gampang didapat. Gaya apapun di sini adalah semua software-softwarenya yang rupa-rupa mulai dari aplikasi perkantoran, grafis, multimedia, konstruksi, game dan sebagainya mudah didapat karena cukup beli atau mengkopi CD bajakannya maka saya bisa meninstallnya ke komputer saya.
Padahal selama kita menggauli Windows beserta software-softwarenya itu agak jarang dari kita yang melalui prosedur yang sah (KUA atau licensed nihh..?). Termasuk saya sendiri yang menggunakan program dan OS Windows bajakan. Lagian ngapain juga repot-repot tiap saya mau begituan harus lewat penghulu dulu (dalam hal ini beli software legal). Apalagi si Windows dan program-programnya mau saja saya nikahi namun dengan mas kawin yang teramat mahal.





By Gregg Stalter (AKA Cappy) “A lover of ink on paper”



























