Dunia multimedia sekarang sedang marak-maraknya penggunaan animasi terutama animasi 3D. Mulai dari film yang menggunakan animasi 3D, iklan TV sampai dengan game. Apalagi dengan berhasilnya film animasi anak-anak yang berasal dari impor seperti Upin & Ipin serta Little Khrisna dari India. Menggunakan teknologi 3D tidak lepas dari penggunaan perangkat yang lumayan tinggi tuntutan spesifikasinya. Juga berharga mahal. Mulai dari software juga hardware. Sekarang Indoensia juga tidak ketinggalan dalam memproduksi film-film animasi. Contoh gampangnya bisa kita lohat di MNCTV tiap sore, ada beberapa film animasi karya anak negeri. Didi Tikus misalnya.
Namun sekarang kita tidak perlu khawatir dengan itu semua, minimal sekarang kita sudah bisa menghemat anggaran untuk mengembangkan konten 3D, bisa dimulai dari perangkat lunaknya. Software 3D yang dimaksud adalah Blender, mampu membuat citra tiga dimensi (3D), animasi 3D, game serta sedikit video editing. Bersifat gratis, bebas didownload dan disebarluaskan juga dengan kebutuhan space installer yang lumayan kecil, tidak sampai 30 Mb.
Blender juga dapat dijalankan pada sistem operasi yang lagi-lagi gratis yaitu Linux. Beda banget dengan 3D Studio Max yang berharga jutaan. Sudah begitu, komunitas Blender di tanah air sudah seperti jamur di musim hujan, banyak banget. Jadi kita bisa konsultasi dengan bahasa kita sendiri jika menemui permasalahan. Khusus untuk saya, jika travelling terkadang membawa netbook (itu juga inventaris sekolahan), maka Blender masih bisa dijalankan pada komputer yang agak jadul untuk modelling & rendering yang sederhana.