Waw, gile bener.. Ada lho tempat praktek kerja industri atau prakerin yang memungut biaya bagi para calon siswa/i yang akan magang di tempat yang bersangkutan. Kisarannya sekitar 200 ribu rupiah per anak. Jumlah yang 'tidak sopan dan kurang ajar'. Alasan mereka, "kami kan butuh biaya juga dalam membimbing siswa siswi bapak".. prettt!!.
Kalau sudah begini mendingan cari tempat prakerin yang lain deh. Kasihan kan siswa siswi gue kalau dibebankan biaya segitu. Apa lagi mayoritas mereka berasal dari keluarga sederhana yang sangat sensitif dengan uang sejumlah itu.
Solusinya bagaimana pak Guru?
Kalau gue sih mendingan menawarkan kerja sama seperti pemuatan profil usaha mereka berupa artikel atau juga berupa banner iklan masing-masing DU/DI di web site sekolah. Kan lumayan tuh buat para pelaku Dunia Usaha & Dunia Industri dalam mempromosikan usaha mereka. Iklan gratis gitu lho.
Manfaatnya apa sih pak Guru?
Agar jika ada calon pemakai jasa yang mencari keberadaan mereka bisa diketahui lewat web site sekolah tempat gue mengajar. Ketika si mbah Google mengindeks halaman web sekolah gue kan ada tuh nyangkut-nyangkutnya. Lumayan kan gue kasih back link gratis buat mereka... 
Ketika gue tawarkan konsep ini ke beberapa DU/DI yang menampung murid-murid gue untuk PKL/prakerin mereka menyambut baik. Setidak-tidaknya tahun ajaran yang akan datang nanti kan gue bisa titip lagi angkatan baru ke sana.
Apa Hubungan Jurusan DKV di Sekolah Tinggi Dengan Multimedia Di SMK? Jawabannya ada 'ga sih? Sebenarnya ada walau jurusan Multimedia saya rasa masih soft dan light. Tapi perbedaannya sangat-sangat tipis. Artinya begini, kurikulum Multimedia di SMK lebih cenderung praktis dan singkat sedangkan DKV di sekolah tinggi lebih luas. Selain itu pada jurusan DKV di sekolah tinggi penekanan konsep dan eksekusi artwork yang saya lihat lebih kental ke dunia nyata. Kalau Multimedia di SMK saya melihat masih malu-malu. Sama seperti murid-murid saya yang kalo diminta bertanya terhadap pelajaran multimedia yang tidak mereka mengerti, mereka enggan. Mungkin ini masalah kultur lokal saja barangkali..













