Selamat datang wilujeng sumping sugeng rawuh di blog saya yang baru. Blog yang berusaha didedikasikan untuk dunia pendidikan, design grafis dan TIK Indonesia.
Judul di atas ada benarnya juga buat saya. Pertama kali terjun ke dunia pendidikan gue mulai dari nol. Dengan pengalaman mengajar hanya ketika praktek di kuliah Akta IV dulu gue pede aje melamar jadi guru. Meninggalkan pekerjaan yang terhitung mapan dengan gaji lumayan di salah satu manufaktur di Jakarta. Walau bekerja sebagai buruh pabrik tapi posisi gue yang berada di ujung tombak perusahaan kala itu (sebagai Graphic & Creative Designer) sangat strategis. Bergaji lumayan, bisa nyicil rumah, bisa bantu orang tua dan bisa ngasih makan anak istri. Hubungan dengan para boss juga harmonis sehingga gue satu-satunya karyawan yang sering diajak makan siang bareng dengan mereka. Teman-teman sekantor juga sangat mendukung pekerjaan gue. Apalagi divisi gue merupakan divisi yang paling kompak dan solid. Namun gue tinggalin itu semua demi cita-cita menjadi guru.
Ga kebayang ketika resign dan terjun menjadi guru dari buruh pabrik. Gaji gue sebagai guru tidak tetap (GTT) kala itu pun tidak ada seperempatnya gaji gue di pabrik. Tapi namanya demi cita-cita, gue lakonin juga. Alhamdulillah sekarang kehidupan gue jauh lebih baik dari sebelumnya, jauh lebih tenang dari pada ketika bekerja sebagai buruh pabrik dulu. Cita-cita gue tercapai, dekat dengan keluarga dan masih bisa menyalurkan hobi gue kutak-katik komputer karena memang gue mengajar komputer.
Sekarang ketika tulisan ini dibuat gue sudah hampir setahun mengajar. Dari awal menjadi guru, apalagi gue menjadi guru SMK dengan mata pelajaran produktif, gue udah sadar akan tantangan yang akan gue hadapi ke depan. Ternyata mejadi guru SMK mapel produktif itu tidak gampang. Mungkin lebih sulit menjadi guru SMK mapel produktif dari pada guru dengan mapel adaptif, normatif atau UAN. Gue pernah berdiskusi dengan praktisi multimedia dari Unes Semarang yang mana beliau mengatakan bahwa sukses atau tidaknya SMK itu sangat bergantung dengan gurunya. Artinya walau kepala sekolah merupakan penentu kebijakan tetap saja si guru produktif yang bersangkutan yang berhak mau dibawa kemana arah jurusan yang dipegangnya. Kebetulan gue juga menjabat sebagai Kepala Program Keahlian.
Kalau menurut gue pernyataan itu ada benarnya. Malah gue berpendapat akan lebih baik lagi jika guru produktif SMK adalah minimal berasal dari bidang yang relevan dengan mata pelajarn produktif yang diampunya. Baik itu sebelumnya pernah bekerja pada bidang yang sama dengan apa yang diajarkan atau minimal dengan pendidikan yang relevan juga dengan mata pelajaran yang diajarkan (ilmu murni).
Keuntungannya adalah mata pelajaran produktif yang diajarkan ke murid akan lebih up to date dan segar. Karena umumnya jika pernah bekerja di bidangnya lalu terjun mengajar dengan mapel yang sama maka si guru tersebut tahu banyak kebutuhan dunia industri saat ini dan ke depannya. Juga masalah kedisiplinan, sikap dan etos kerja di tempat bekerja otomatis juga akan diturunkan ke murid. Inilah manfaat yang bisa dipetik, selain murid dibekali kemampuan teknis yang terkini dengan standar di dunia kerja dan dunia industri juga ada soft skill yang didapat.
Ini yang susah, karena yang mau (bekerja) menjadi guru banyak namun kalau dengan kualifikasi minimal di atas sangat susah sekali. Kalau sudah enak-enak kerja di perusahaan apalagi di swasta dengan gaji lumayan, masa depan terjamin, fasilitas oke ngapain juga terjun jadi guru, harus GTT dulu pula. Apalagi dengan status guru muda non-PNS dengan gaji yang Anda tau sendiri deh.
Asal tau saja, pengalaman saya belasan tahun bekerja di industri membuktikan bahwa pintar akademis saja tidak cukup. Diperlukan hal-hal seperti berikut:
baik itu bekerja sebagai karyawan biasa, di posisi manajerial atau pun bekerja mandiri alias wiraswasta.
Tantangan lainnya adalah bagaimana gue sebagai guru mapel produktif di SMK dalam menjalin hubungan dengan dunia usaha/industri jika tidak ingin siswa/i nya ditolak ketika mencari tempat magang kerja atau praktek kerja industri (prakerin). Harus pintar-pintar mengambil hati para pelaku dunia industri. Lain usaha/pemilik berarti lain juga karakter yang akan kita hadapi. Coba baca deh pengalaman saya mencari tempat prakerin di sini.
Intinya adalah hambatan dan tantangan gue ke depan makin kompleks. Yah, mendingan dinikmati saja. Siswa belajar, gue juga ikut belajar.
Comments
Saya bekerja sbgai staff multmedia.
Saya juga punya cita2 jadi guru tapi masih belum kuliah, Insya Allah tahun ini kuliah ambil kuliah karyawan yang sabtu minggu masuk.
Saya mau nanya,
Apakah untuk menjadi guru produktif SMK itu harus mengikuti kuliah Akta IV pak?
atau hanya Sarjana komp saja bisa jadi guru produktif di smk?
mohon djawab ya pak.
Trims..
Sebenarnya beberapa tahun yang lalu memang ada beberapa sekolah yang mensyaratkan calon guru dengan latar belakang pendidikan non-FKIP/Kependidikan yang melamar harus mempunyai Akta IV.
Malah ada kabupaten di Indonesia yang mensyaratkan harus punya Akta IV jika melamar jadi CPNS formasi guru (sekali lagi, untuk pelamar dari non-FKIP).
Tapi sekarang denger2 sih program Akta IV sudah ditutup di semua kampus dan diganti dengan program Sertifikasi Profesi.
Nah, untuk kampus yang menyelenggaraka n sertifikasi profesi keguruan ini saya juga sedang cari karena ada beberapa rekan saya yang dari non-FKIP berminat.
Mungkin Anda bisa langsung ambil FKIP tapi yang spesialisasi mengajar ke arah TI.
masalahnya di kota malang yang FKIP itu tidak ada yang kuliah sore/karyawan pak.
Soalnya saya khan posisi bekerja.
Kalau adapun yang kuliah sore blm ada FKIP yang spesialisasi ke TI.
Jadi bagaimana pak ya?
Tetapi yg dialami sekolah rata2 utk pelajaran produktif MM hny mampu 2jam dikarenakan bnyak pelajaran MTK, Fisika/Kimia, dll. Susah sekali menjadikan anak yg berguna bagi NUSA dan BANGSA (tidak menjadi sampah masyarakat).makanya saya berminat sekali menjadi guru walau gaji "umar bakri" (hehehehe).Menjadi seorang guru bukan lah pekerjaan yg hina melainkan menjadikan kita org yg berguna.So.... Hymne Guru itu benar
saya mendapat tawaran mengajar smk..
tp saya masih semester 5..
gmna itu pak dan saya baru pertama kalinya...
apa yang pertama saya lakukanmohon di jwab pak ea..
Maju terus bulatkan tekad kuatkan niat tapi kalau bisa rampungkan dulu study Anda..
RSS feed for comments to this post