Text Size
Sabtu, May 19, 2012

/hello world...

Selamat datang wilujeng sumping sugeng rawuh di blog saya yang baru. Blog yang berusaha didedikasikan untuk dunia pendidikan, design grafis dan TIK Indonesia.

What's Inside

Sudah sekian lama tidak menggauli istri sendiri yang dinikahi secara sah maka awal tahun ini saya memutuskan kembali 'rujuk' dengan sang istri.

Istri saya bernama Linux. Kenapa Linux saya sebut istri? Karena hanya dengan istri kita sendiri kita dapat 'berbuat' apa saja tanpa takut dosa :-) Paham kan maksudnya. Nah apa hubungannya antara program komputer dengan istri?

 

Begini, pada awalnya memang saya dibesarkan di lingkungan Windows sehingga dari perasaan biasa saja menjadi luar biasa alias jatuh cinta karena sering bertemu. Cinta bukan hanya pada tampilannya yang molek, juga kemudahan pakai dan cara menggaulinya (gampangan lah istilahnya). Mau gaya apapun si Windows sanggup melayani dan sekali lagi gampang didapat. Gaya apapun di sini adalah semua software-softwarenya yang rupa-rupa mulai dari aplikasi perkantoran, grafis, multimedia, konstruksi, game dan sebagainya mudah didapat karena cukup beli atau mengkopi CD bajakannya maka saya bisa meninstallnya ke komputer saya.
Padahal selama kita menggauli Windows beserta software-softwarenya itu agak jarang dari kita yang melalui prosedur yang sah (KUA atau licensed nihh..?). Termasuk saya sendiri yang menggunakan program dan OS Windows bajakan. Lagian ngapain juga repot-repot tiap saya mau begituan harus lewat penghulu dulu (dalam hal ini beli software legal). Apalagi si Windows dan program-programnya mau saja saya nikahi namun dengan mahar yang teramat mahal.

Akhirnya karena malu dan 'gak enak sama orang tua, keluarga, lingkungan dan udah mulai tobat walau masih suka sembunyi-sembunyi main Windows maka saya menikah secara resmi dengan Linux Mandrake. Sebuah pernikahan yang ternyata sangat tidak merepotkan dan juga tidak menguras tabungan. Saya cukup pasang badan (punya komputer) lalu membeli mas kawin berupa majalah INFOLinux yang selalu memberikan gratis DVD installer Linux ke pembacanya, lengkap dengan aplikasi-aplikasinya.

Istri saya ini memang sangaaaat pengertian. Dengan sabarnya dia masih mengijinkan saya tetap berhubungan dengan pacar lama saya, si neng Windows. Tingkat kesabarannya memang luar biasa, malah dia mau diselingkuhi dan tinggal satu atap dengan si Windows alias Dual Booting. Bila saya bosan dengan sang istri maka saya bisa lompat ke kamar sebelah untuk main dengan neng Windows, vice versa. Ketika si neng Windows sakit parah (tertular virus) maka istri saya, si Linux, mengobati pacar gelap suaminya dengan telaten. Baik itu mempreteli satu-persatu file-file aneh yang menempel di tubuh Windows maupun menggunakan anti-virus yang ada di tubuh istri saya. Itu memang karena istri saya kebal dari penyakitnya si Windows.

Sampai suatu ketika saya putuskan untuk menceraikan (format partisi harddisk) istri saya, si Linux Mandrake karena ingin bersenang-senang dengan sang pacar gelap yang lebih memberikan kepuasan. Bertahun-tahun saya tinggalkan istri saya, setiap booting juga saya tidak pernah masuk ke kamarnya. Kasian juga sih tapi saya bersikap masa bodoh. Alasan bercerai adalah ketika itu pembawaan istri saya yang pas-pasan dan sangat sederhana. Baik dari sisi panampilan sampai juga kemampuan.

Namun sebagai lelaki normal saya akhirnya menikah kembali dengan teman sekampung mantan istri yang jauh lebih molek dan mulus dari pada istri pertama saya. Apalagi istri saya yang baru ini sangat anggun di ruang tamu (Desktop Manager-nya ciamik), irit di dapur (irit pemakaian memory & prosesor) dan terampil di ranjang (dengan tool bernama YASt). Istri kedua saya bernama Linux openSUSE versi 11. Sayang pernikahan kami tidak lama. Akhir Desember kemarin kami bercerai dan dia saya usir dari kediaman kami (saya bongkar kamarnya dengan cara delete partition menjadi unallocated).

Sampai akhirnya saya dikenalkan oleh tabloid PCPlus yang memuat artikel tentang Linux Ubuntu. Akhirnya saya kejar makhluk tersebut, saya pacari dan saya nikahi secara resmi dengan mas kawin majalah InfoLINUX edisi Januari 2010 yang berbonus DVD Ubuntu 9.10 plus antek-anteknya. Karena tidak mau gagal lagi di perkawinan saya yang ketiga ini maka saya persiapkan segala sesuatunya untuk meminang si Ubuntu. Termasuk menguji coba ketahanan dan reliabilitas systemnya. Sebelum menikah saya pacari dulu lewat program Virtual Box. Ada 6 kali saya putus nyambung dengannya (alias install ulang lewat Virtual Box under Windows). Setiap ada error atau hubungan yang tidak harmonis maka saya reset kembali alias install ulang. Biasanya sih gara2 masalah di display. Biarin deh, pacaran lewat teknologi virtualisasi ini.
Ternyata si Ubuntu masih sekampung dengan para mantan istri saya dan juga mempunyai sifat-sifat dan kemampuan yang sama dengan mereka. Malah saya merasa si Ubuntu lebih pandai bersolek dengan theme-nya yang beraneka ragam dan dengan berbagai macam desklet, widget atau chiclette seperti yang terdapat di Windows. (Chiclette adalah permen rasa mint jaman dulu -selain permen Chelsea- dan favorit saya, ga tau masih diproduksi apa enggak)

Saya sangat takjub ketika menggunakan Linux Ubuntu ketika presentasi di kelas, dihadapan murid-murid saya.. menggunakan notebook Toshiba Satellite Dual Core RAM 512. Awalnya deg-degan apakah saya bisa menampilkan tampilan layar ke proyektor tanpa driver VGA untuk Linux. Saya menggunakan LiveCD Ubuntu 9.10 dan menyambung ke proyektor Toshiba. Eng ing eng... tampillah layar booting Ubuntu yang beda dengan Windows. Alhamdulillah, Ubuntu ini langsung cocok dengan VGA internal laptop dan mampu mereproduksi display ke proyektor LCD merk Toshiba. Setelah masuk ke desktop, siswa-siswi saya tercengang (saya juga) dengan efek Compiz yang membuat sebuah window bergoyang-goyang ketika di-drag (woobly effect).

Cerita masih berlanjut, kami pun menikah secara resmi dan mur-mer (murah meriah namun sah secara hukum). Saya siapkan kamar tersendiri (partisi /root 11 Gb, /home 11 Gb dan /swap 2 Gb) khusus untuk install Ubuntu di komputer Core 2 Duo 2 Ghz memory 2 Gb saya di rumah. Istri saya yang ketiga ini ternyata serba bisa, mulai dari mengerjakan aplikasi perkantoran (office) yang sangat kompatibel dengan Microsoft Office seperti layout word prosesor sampai juga rumus spreadsheet, browsing internet, membuat grafik vektor & bitmap, desktop publishing, multimedia, 3D, video editing, sound editing, networking, dan lain-lain. Program utilitinya pun sama lengkap dengan yang ada di Windows, kompresi file dengan multi format, recovery data yang sudah terformat sampai program anti virusnya. Hebatnya lagi, semua itu saya dapatkan dari satu keping DVD Ubuntu 9.10 yang berfungsi sebagai mas kawin pernikahan saya. Semua programnya gratis, legal dan tanpa khawatir digrebek petugas yang mata duitan.

Malah rencana ke depannya saya akan kembali berpoligami dengan menikahi mantan istri kedua saya, yang kini (katanya) semakin solid saja, yaitu Linux openSUSE 11.2. Sambil menjalin hubungan gelap dengan kekasih lama saya, neng Windows. Suatu saat saya akan menikahi pacar gelap saya, berhubung sekarang belum mempunyai cukup uang untuk meminangnya alias membeli software Windows legal berikut aplikasi-aplikasinya. Kalau Windows 7 Home Edition saja harganya 2 juta, lha komputernya mau dikasih harga berapa? Belum lagi dengan program-programnya yang lain.


Newer news items:

Comments  

 
0 #1 Tinux 2010-02-20 22:35
Nice and an unique article, but awas aja kalau ayah punya niat kawin lagi... :eek:
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Ubuntu

Artikel Terkini

Animasi Gerak
14 April 2012
Berikut ini saya posting animasi bergerak (pasti bergerak dong, namanya juga animasi) yang sudah disimpan dalam format GIF. Ayo lariiii.. Sumber : Google+

Komentar Artikel

Arsip Artikel

Powered by mod LCA

/sok bijak...

Never show a client a concept that you don’t love and believe in…it will be the one they pick.

Other Side

/flickr

/my facebook

As seen on Facebook
Create Your Badge

/tweet feed

/google+